myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Ngaturaken sugeng enjang kagem sedhaya, mugi-mugi tansah pirangan karaharjan. Kesempurnaan kehidupan manusia tercapai manakala manusia itu bisa merasakan kehidupannya dengan rasa yang ada di dalam dirinya. Pencapaian ini tidaklah mudah, butuh proses yang panjang dengan segala rintangannya. Semua itu terlihat dalam Tari Topeng Arsawijaya yang merupakan sebuah tari klasik Bali yang ide tariannya diambil dari petilan dari seni Drama Tari Topeng Bali yang di dalamnya menceritakan tentang tokoh Raja yang sangat bijaksana.Tari Topeng ArsawijayaTokoh Raja disini digambarkan adalah Raja yang masih muda, berparas tampan, tetapi mempunyai kebijkasanaan dalam hal kehidupan maupun dalam memerintah kerajaannya sehingga disukai oleh para rakyatnya. Cerita tokoh Raja ini sering sekali dihubungkan dengan cerita Panji.Tari Topeng ArsawijayaSemua karakternya yang ditampilkan adalah baik, tidak antagonis. Tari Topeng Arsawijaya termasuk cerita babat atau cerita tentang Raja-Raja atau sejarah tari tradisional klasik di Pulau Bali. Arsawijaya mempunyai makna, dimana Arsa mempunyai arti harapan, Wijaya berarti bagus sehingga secara filosofi mempunyai arti sebuah pengharapan yang bagus untuk kehidupan di dunia ini.Tari Topeng ArsawijayaTari ini secara khusus ditarikan oleh I Nyoman Chaya, dalam acara peluncuran buku karangan dr. Handojo Tjandrakusuma yang berjudul Lansia Milenial (Hidup Sejahtera di Masa Lanjut Usia) yang mengungkap pemikiran mengenai kondisi Lansia saat ini, di Restaurant Orient, Jl. Slamet Riyadi no 397, Sondokan, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, pada hari Rabu, tanggal 20 Nopember 2019, mulai pukul 18.00 wib sampai selesai.Tari Topeng ArsawijayaI Nyoman Chaya adalah pensiunan Dosen ISI Surakara yang lahir pada tanggal 1 Januari 1952 di Pulau Bali tepatnya di Singaraja. Beliau pernah aktip sebagai Dosen di ISI Surakarta dari tahun 1978 sampai 2017. Beberapa karyanya yang menjadi Master Piece antara lain Sketsa (1983),  Bima Suci Kecak (1990) dan Manggigel (2004).Tari Topeng ArsawijayaSebuah pilihan tari yang sangat cocok sekali bagi kebanyakan penonton di acara tersebut (yang rata-rata lansia). Dengan tokoh Arsawijaya ini, para penonton disuguhi sebuah tarian dengan karakter yang bijaksana, yang semuanya terlihat dari gerak, irama dan busana yang dikenakan.Tari Topeng ArsawijayaMemang untuk menarikan sebuah tari topeng ini konsekwensinya sangat berat sekali, karena penari harus mempu menghidupkan karakter dari topeng itu sendiri. Bahkan untuk melakukan ini semua, di Bali ada sebuah adat upacara berupa pernikahan penari dengan topengnya.Tari Topeng ArsawijayaHal ini dimaksudkan agar penari benar-benar bisa masuk kedalam karakter topeng yang mau ditarikannya, sehingga apa yang mau disampaikan kepada penonton dapat tersampaikan. Tidak sembarangan, jiwa raga penari menjadi satu dengan topengnya.Tari Topeng ArsawijayaDalam tari Topeng yang utama adalah ungkapan jiwa atau pribadi dari penarinya. Manakala penari menarikan harus menggunakan “rasa” agar supaya topeng ini bisa hidup. Manakala penari hanya menyajikan gerak tari tanpa adanya jiwa didalamnya maka akan hampa, hanya sajian susunan tari saja yang nantinya akan terlihat.Tari Topeng ArsawijayaMemainkan tari topeng dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor teknis yaitu faktor jam terbang atau biasa disebut dengan pengalaman dilapangan dan faktor non teknis yaitu penjiwaan, semata-mata tidak hanya meniru penari lain, tetapi mempunyai kekuatan ekspresi di dalam diri sendiri. Dan satu lagi yang menjadi kuncinya yaitu “konsistensi”.Tari Topeng ArsawijayaKomposisi di dalam Tari Topeng Arsawijaya mengandung makna yang sangat dalam yang berisi tentang nilai-nilai kebijaksanaan dan kewibawaan yang telah didapat dari orang yang sudah mapan, sareh dan menep dalam hidupnya, pastinya akan bisa menerima kehidupan yang sempurna didunia ini.Tari Topeng ArsawijayaGerak dalam Tari Topeng Arsawijaya mengacu pada gerak tari Klasik Bali yang geraknya mempunyai karakter alusan, tidak petakilan tapi mengandung unsur menep. Walaupun halus, penonton terasa terhipnotis dan ikut larut didalamnya.Sedang pola lantainya sangat sederhana dimana ada istilah Pedom Karang, dimana Pedom berarti dibagi, sedangkan Karang berarti wilayah. Sehingga penari penari tidak hanya menari ditengah-tengah stage saja, tetapi juga membentuk pola lantai di kanan dan di kiri sehingga terlihat dinamikanya.Tari Topeng ArsawijayaKastum yang dikenakan menggunakan busana yang biasanya digunakan tari klasik Bali, berupa Prodo. Sebuah busana yang spekta yang dibuat oleh para leluhur Bangsa Indonesia, sangat menarik sekali dan disini biasanya di Pulau Bali disebut dengan Busana Petopengan. Biarpun tokohnya wanita atau pria busananya akan sama dalam hal ini.Tari Topeng ArsawijayaIringan yang mengiringi tarian ini menggunakan gamelan klasik Bali, dengan iringan gendhingnya bernama Gendhing Jaran Sirig, dengan irama yang manis yang isinya nyondro tapi tidak ditembangkan. Lagu yang mengisi iringan biasanya liriknya pasti nyondro.Tari Topeng Arsawijaya“Sebuah sajian tari yang mempunyai makna “kemenepan” seseorang, yang semuanya untuk menunjukan sebuah karakter orang yang sudah mencapai tataran kebijaksanaan yang tinggi, sangat berguna bagi kita semua dalam menjalani kehidupan dunia yang dinamis ini”, ujar I Nyoman Chaya disela-sela acara. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here