myimage.id | Salam Budaya, selamat pagi, salam hangat, sehat dan sejahtera. Manakala manusia mempunyai sebuah sesuatu  yang sangat berharga, pastilah akan selalu selalu dijaga dan dirawat. Dalam ungkapannya manusia punya pikiran, perasaan dengan cipta, rasa dan karsa didalamnya. Ya, semua ini terlihat dalam karya Tari Totem, tapi disini tidak diartikan dalam bentuk benda wujudnya, tapi “rasa” yang ada di dalam hati manusia.Tari TotemIde tarian ini didapat Martinus Miroto makala teringat akan wajah kedua Orang Tuanya ketika akan meninggal dunia di hadapannya. Memang semua manusia pastinya akan menjalani menjadi tua, siapapun itu. Semua akan terlihat manakala kulit dan tulang pada wajah yang kita mulai menua,   dan semuanya ini diwujudkan beliau dalam bentuk topeng tua.Tari TotemTarian ini ditampilkan dalam event Srawung Seni Sakral 2019 diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Surakarta lewat Dinas Kebudayaan di halaman Balai Kota Surakarta tepatnya pada hari Sabtu, tanggal 31 Agustus 2019, mulai pukul 19.30 wib sampai selesai.Tari TotemSrawung Seni Sakral 2019 yang merupakan  sebuah acara tradisi dalam rangka menyambut bulan Suro yang dilakukan oleh para seniman sebagai bentuk satu ruang untuk berekspresi dalam sebuah karya seni sebagai simbol ucapan syukur kepada Sang Pencipta atas segala karunia yang diterima selama ini.Tari TotemTari Totem secara khusus diciptakan oleh Martinus Miroto untuk acara Srawung Seni Sakral 2019. Beliau lahir di Yogyakarta, tepatnya di Sleman tanggal 23 Pebruari 1959, yang sekarang aktip sebagai Dosen di ISI Yogyakarta. Karya-karya beliau lebih dari 50 buah yang sudah dipentaskan di 5 benua. Beberapa karyanya yang menjadi Master Piece diantaranya Sampah (1986), Penumbra (1995) dan Body In Between (2014).Tari TotemSakral bagi Martinus Miroto, merupakan gambaran tentang kepasrahan manusia kepada Sang Pencipta, yang berkaitan dengan kepercayaan dan Agama. Tapi dalam Totem ini dimasukan dalam seni Ritual yang diwujudkan dalam koreografi dalam mengenal Bapak/Simbok (Bapak dan Ibu).Tari TotemKomposisi dalam tarian ini menggambarkan kehidupan akhir jaman bagi manusia. Menjadi tua dan itu alami yang pasti akan dialami oleh semua mahluk hidup. Geraknya pendek-pendek, lamban dan susah dan itu harus kita sadari dan hayati, ketika tubuh kita sudah menjadi lemah dan renta.Tari TotemFokus pada gerak jemari tangan, dan biasanya gerakan ini merupakan gerakan akhir hayat bagi manusia, dimana sering bergetar dengan sendirinya. Manakala kalau kita perhatikan tarian ini seperti tari Topeng panji dimana geraknya sangat mirip, walaupun kepala, badan dan kaki juga mengikutinya.Tari TotemGerak dalam tari Totem ini merupakan gerakan yang baru bagi Martinus Miroto, karena beliau mengexplore gerakan orang tua yang mau meninggal. Geraknya pendek-pendek dan kecil-kecil, sangat intens dekat dengan bumi. “Mulane wong nek arep mati, kasebut wis cedak karo lemah” artinya mulanya orang kalau mau meninggal disebut sudah dekat dengan tanah (bumi).Tari TotemTotem ini merupakan pengalaman baru, walaupun terlihat energinya kecil, tapi ternyata tidak demikian, karena gerak lutut harus selalu ditekuk terus mendekati tanah, mirip tari klasik Jawa atau kalau di Cina sering disebut dengan Tai Chi. Walaupun minimalis tetapi ternyata energinya yang terkandung sangat besar.Tari TotemSebuah tarian yang epic, dimana kita disajikan sebuah tarian yang sangat lamban dan silent, dengan harapan  penonton dapat merasakan feel dengan rasa dalam hati, karena ini ditampilkan ditempat yang ramai, sakral biasanya memang sering ditampilkan ditempat sakral juga. Pengendalian diri itu intinya dari semuanya ini.Tari TotemTari Totem dapat dimasukan dalam tari Kontemporer dengan iringan gendhing Jawa Klasik (Rodhong Cilik) yang merupakan rekaman Lokananta, yang berisi tentang pelajaran kebaikan dan budi pekerti bagi manusia dalam menjalani kehidupan di dunia.Tari TotemBusana yang dikenakan juga sangat simple dan minimalis, sangat umum karena memang sering dikenakan oleh para orang tua dalam kehidupan disekitar kita. Dapat dikatakan dengan istilah tidak neka-neko (apa adanya) dengan property topeng wajah tua.Tari TotemTari Totem.

1Koreografer:Martinus Miroto
2Penari:Martinus Miroto dan Rada
3Penata Busana:Martinus Miroto
4Penata Iringan:Rekaman Lokananta (Rodhong Cilik)

Tari Totem“Manusia akan menjadi tua dan semua akan habis, mulai dari energy. Menari adalah mengalami dan kemudian berperan menjadi orang tua yang akan mati, menjadi sebuah pengalaman tersendiri. Jadi intinya manusia selalu diingatkan harus banyak mendekatkan diri kepada Sang Pencipta”, ujar Martinus Miroto disela-sela acara Srawung Seni Sakral 2019. (Soebijanto/reog biyan).

2 COMMENTS

  1. Makasih mas Soebijanto atas tulisan yg apik ini. Dunia tari sangat bersyukur dan berterima kasih atas tulisan2 Mas. Semoga Tuhan Memberkati Mas Sekeluarga. Amin.

    • Matur nuwun Pak Miroto, hanya seperti ini yang bisa saya berikan kepada Bangsa Indonesia dengan menulis tentang seni budaya Indonesia. Semoga kedepannya tambah sukses untuk Pak Miroto dan teman-teman. Suwun

Leave a Reply to Miroto Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here