myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng enjang sedherek-sedherek. Sajroning ono jarwo kang membo rupo wujud celeng membo manungso kebak bowo olo, ono satria mudo mbengkas memolo mungkasi karyo. Ya, semua kata-kata diatas tergambar jelas dalam Tari Turonggo Ksatria yang merupakan tari kreasi baru yang didalamnya menceritakan tentang seorang ksatria dan kelompoknya  yang sedang memberantas kejahatan didalam masyarakat yang didalam tarian ini digambarkan sebagai celeng (babi hutan).Tari Turonggo KsatriaTarian ini diciptakan khusus oleh Nadia Kusuma Wibawani untuk dipentaskan dalam Gelar Karya Tugas Akhir, yang tercipta karena terinspirasi dari sebuah tari tradisi kerakyatan dari daerah Kabupaten Trenggalek yaitu tari Jaranan Turonggo Yakso.Tari Turonggo KsatriaGelar Karya Tugas Akhir di selenggarakan di Auditorium Jurusan Tari, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Jalan Parangtritis KM 6,5 Sewon Bantul, tepatnya pada tanggal 21 sampai 22 Desember 2019, mulai pukul 19.30 Wib sampai selesai, yang pada tahun ini mengusung  tema dengan tajuk  “Catur Karsa dalam Asa”.Tari Turonggo KsatriaTari Jaranan Turonggo Yakso biasanya ditarikan dalam sebuah upacara adat Baritan yang hidup di Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek. Merupakan sebuah upacara adat warisan nenek moyang yang sampai sekarang masih hidup di masyarakatnya. Upacara adat ini biasanya dilaksanakan pada bulan Suro tiap tahunnya.Tari Turonggo KsatriaSecara makna, tarian ini mempunyai arti yang dalam, dimana Turonggo mempunyai arti Jaranan (kuda-kudaan), sedangkan Yakso mempunyai arti buto atau raksasa, sehingga kalau arti ini digabungkan akan mempunyai makna sebuah pasukan ksatria yang naik jaranan (kuda-kudaan) dengan bentuk kepala buto/raksasa.Tari Turonggo KsatriaNadia Kusuma Wibawani lahir di Trenggalek, tanggal 23 Maret 1996. Sejak kecil lahir dalam kehidupan kesenian Trenggalek , banyak karyanya yang diambil dari pengendapan rasa tradisi.  Beberapa karyanya yang sudah diciptakan diantaranya, Natural Beauty (2016), Rohani (2017) dan Narit (2017).Tari Turonggo KsatriaKomposisi didalam tarian ini menggambarkan tentang keseimbangan didalam kehidupan manusia, dimana ada sisi baik dan buruk, semua ini tergambar jelas didalam tarian ini, yang pada akhirnya kebaikanlah yang akan memenangkan konflik yang terjadi.Tari Turonggo KsatriaSedangkan komposisi internalnya dalam Tari Turonggo Ksatria ini, ada bentuk-bentuk lingkaran tertentu yang menandakan tekad yang bulat didalam kelompok ksatria untuk melawan kezaliman atau kejahatan didalam masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk celeng (babi hutan).Tari Turonggo KsatriaGerak didalam tarian ini mengambil ragam dari tari Jaranan Turonggo Yakso yang ada di Trenggalek, terutama pada motip dan bentuknya, kemudian diolah atau digarap teknik dan isinya sehingga tercipta gerak yang baru, dimana ini semua melalui teknik explorasi, improvisasi dan pengolahan komposisi untuk diwujudkan dalam bentuk tarian yang diinginkan.Tari Turonggo KsatriaBusana yang dikenakan juga sudah dalam bentuk garapan dengan esensi atau pakemnya dari busana Tari Turonggo Yakso, yang dikembangkan dan dikreasi sesuai kebutuhan. Pada bagian kepala menggunakan menggunakan ikat kepala dari kain atau udeng, jamang, sumping, dan anting. Untuk bagian badan menggunakan baju tanpa lengan, hiasan dada dan punggung, hiasan pada pergelangan tangan dan lengan atas, serta stagen, sabuk, rampek dan sampur 2 warna. Untuk bagian celana menggunakan celana 3/4, jarik, dan bagian kaki kanan menggunakan kerincing  atau gongseng. Property menggunakan pecut.Tari Turonggo KsatriaIringan musiknya juga garapan dari pengembangan dengan menggubah pola ritmis dari iringan Turonggo Yakso.  Penggunaan instrument gamelan Jawa laras pelog slendro dan slompret jaranan dengan memadukan instrumen lain seperti drum, bedug, string, trompet dan chimes. Iringan didasari dengan mengikuti gerak tarian, dengan menyuguhkan suasana sakral, keprajuritan dengan dibalut nyanyian nyanyian dalam bentuk musik ritual serta lagu yang menggambarkan keprajuritan.Tari Turonggo KsatriaTari Turonggo Ksatria.

1Koreografer:Nadia Kusuma Wibawani
2Penata busana:Feri (Pelangi Entertainment)
3Penata Rias:Bunda Ratu Ayu
4Penata Musik:Achmad Lutfi P
5Penari:
  1. Prity Lely Arum Sari

2. Diajeng Kusuma Megandini

3. Septia Tanto Lestari

4. Rinandyta Herdianty

5. Devi Erna Nur Hidayat

6. Safera Tungga Dewi

6Dosen pembimbing 1:Dra. Erlina Pantja Sulistijaningtijas,M.Hum
7Dosen pembimbing 2:Drs. Bambang Tri Atmadja, M.Sn
8Dosen penguji ahli:Dr. Hendro Martono, M.Sn

Tari Turonggo Ksatria“Sebuah tarian yang memberikan gambaran kepada audience tentang kelebihan manusia dibandingkan dengan mahluk lain didalam kehidupan ini. Tapi kehidupan manusia ini masih harus tertumpu pada bimbingan dan perlindungan dari Yang Maha Kuasa”, ujar Nadia Kusuma Wibawani, selaku koreografer disela-sela acara. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here