myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya, sugeng enjing, sugeng kewarasan sedoyo. Segala kehidupan manusia telah ditentukan oleh Sang Hyang Maha Kuasa. Kita manusia hanya menjalani saja, baik buruk pasti akan kita jalani bersama dan tidak akan ada yang menang dan kalah dalam kehidupan ini. Semua ini terlihat dalam Tari Wanabaya yang merupakan sebuah tari tradisi yang didalamnya menceritakan tentang sebuah usaha untuk membebaskan tanah perdikan yang dilakukan oleh Ki Ageng Manggir dari pajak para penguasa pada jaman Mataram di masa pemerintahan Panembahan Senopati.Tari Wanabaya, Ki Ageng ManggirSampai kemudian tanah perdikan tersebut terus dijaga oleh para keturunan Ki Ageng Manggir yang posisinya sekarang di daerah Bantul, Yogyakarta. Lakon pada pagelaran kali ini yang ditampilkan adalah ketika Ki Ageng Manggir atau biasa disebut Ki Wanabaya ketika masih muda.Tari Wanabaya, Ki Ageng ManggirSeperti halnya anak muda dimana saja, emosi dan pertimbangan yang kurang matang selalu menyertainya dan sering dilakukan, hal ini juga terjadi pada Ki Ageng Manggir ketika dia mengetahui bahwa dia di tipu oleh istrinya (Retno Pambayun) yang ternyata dia adalah anak dari musuh besarnya  dari kerajaan Mataram, Panembahan Senopati.Tari Wanabaya, Ki Ageng ManggirMemang awalnya dulu Retno Pambayun di suruh ayahnya untuk menaklukan Ki Ageng Manggir dengan kecantikan dan pesonanya, dengan menjadi penari tayub. Selama itu Kerajaan Mataram sudah sangat kewalahan untuk menaklukan Ki Ageng Manggir dengan cara  kekerasan.Tari Wanabaya, Ki Ageng ManggirPertemuan Retno Pambayun dengan Ki Ageng Manggir memang sudah di rekayasa oleh Panembahan Senopati, dari pertemuan itu Ki Ageng Manggir langsung jatuh cinta dengan Retno Pambayun dan ingin menjadikan pendamping hidupnya. Tapi pada satu waktu Retno Pambayun mengaku kepada Ki Ageng manggir siapa dia sebenarnya karena tidak tega terhadap suaminya.Tari Wanabaya, Ki Ageng ManggirKi Ageng Manggir marah besar dengan keadaan ini, Retno Pambayun hampir saja di bunuhnya, tetapi apapun yang terjadi dia adalah istrinya yan merupakan belahan jiwanya, apalagi Retno Pambayun dalam keadaan hamil mengandung anaknya. Akhirnya dia mengampuni istrinya dan malah minta restu atas hubungannya dengan Retno Pambayun kepada Panembahan Senopati sebagai ayah dari Retno Pambayun.Tari Wanabaya, Ki Ageng ManggirTari Wanabaya ditarikan oleh Sanggar Solah Gatra Surakarta, sebagai penampil kedua pada hari kedua di acara Festival Seni Tradisional Jawa Tengah 2019 diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Tengah yang pelaksana teknisnya dari Taman Budaya Jawa Tengah selama 4 hari, mulai dari tanggal 23-26 Juli 2019 mulai pukul 19.30 wib di Pendopo Ageng Taman Budaya Jawa Tengah.Tari Wanabaya, Ki Ageng ManggirSanggar Solah Gatra merupakan sebuah komunitas yang terjun di bidang kesenian tari yang dibentuk oleh Nur Diatmoko asal Wonogiri, Jawa Tengah pada tanggal 5 Nopember 2013. Komunitas ini terbentuk sebagai sebuah wadah sekaligus forum untuk bertukar pikiran serta gagasan mengenai seni pertunjukan tari.Tari Wanabaya, Ki Ageng ManggirRagam gerak dalam Tari Wanabaya ini banyak sekali mengambil dari gerak tari tradisi gaya Surakarta yang sudah di garap yang disisipi dengan gerak-gerak tari yang kekinian, tidak hanya itu saja yang ceritanya pun di buat sesuai dengan keadaan sekarang ini. Dengan harapan agar penonton tidak bosan dan bisa menikmati semua yang tersaji di dalam tarian ini.Tari Wanabaya, Ki Ageng ManggirPola lantainya juga dinamis dan variatif yang menggabungkan antara pola lantai yang lama dengan yang baru. Mulai dari bentuk lingkaran, diagonal sampai lurus kanan kiri. Dalam sajian ini yang paling ditonjolkan adalah pola kelompok dengan tokoh sentral di tengah.Tari Wanabaya, Ki Ageng ManggirBusana yang dikenakan juga masih mengacu kepada busana tradisi, ada yang menarik disini, dimana tiap adegan yang ditampilkan disini selalu menampilkan busana yang selalu berbeda, dengan harapan agar visualnya tersampaikan kepada penontonnya, mulai dari celana cinde, jarik supit urang, sorjan, kebaya dan iket  kelapa masih mendominasi busana yang dikenakan.Tari Wanabaya, Ki Ageng ManggirIringan gendhingnya menggunakan gamelan klasik Jawa secara live show, dimana ada satu adegan percintaan antara Ki Ageng manggir dengan Retno Pambayun menggunakan tembang “Ibu Pertiwi” yang merupakan ciptaan dari Setiaji.Tari Wanabaya, Ki Ageng ManggirTari Wanabaya.

1Persembahan:Sanggar Solah Gatra Surakarta
2Kareografer:Luis Dwi Saputra
3Pengrawit:Kaloka Budaya
4Penari:

Wanabaya/ Ki Ageng Manggir (Luis Dwi Saputra)

Panembahan Senopati (Fahmi Bagas Saputra)

Rakyat (Luis Dwi Kristianto, Johan, Denom, Tegar, Nova, Yudi)

Retno Pambayun (Nia Kurniawati)

Kelompok Putri (Diah Ajeng, Aisah, Santi, Ira, Riska dan Adelina)

Tari Wanabaya, Ki Ageng Manggir“Sebuah pembelajaran bagi kita semua, bahwa ambisi yang berlebihan kadang malah membuat kita terlena dan mengorbankan orang yang ada disekitar kita tanpa kita sadari. Hendaklah berpikir panjang dan mencari solusi yang baik untuk memecahkan masalah sehingga tidak ada yang merasa di rugikan”, ujar Luis Dwi Saputra selaku kareografer. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here