myimage.id | Om Swastiastu, Namo  Buddhaya, wilujeng enjang, sedherek-sedherek. Cinta merupakan bahasa kalbu yang universal, dimana setiap manusia pasti akan mengalami dalam kehidupan ini. Cinta sering sekali dipakai sebagai ide oleh para seniman di seluruh dunia dalam menghasilkan sebuah karya seni. Rasa yang tidak pernah mati yang tercipta selama manusia itu hidup. Semua ini terlihat dalam sebuah pementasan Drama dengan judul Tuan Kondektur yang merupakan sebuah drama karya Anton Chekov yang dimainkan oleh Teater Lingkar Semarang yang didalamnya menceritakan tentang seorang kondektur yang datang ke seorang janda bernama Hamidah yang berprofesi sebagai mak comblang (pencari pasangan hidup) minta dicarikan jodoh untuk dirinya.Tuan KondekturDalam perjalanan,  keduanya malah saling jatuh cinta, tapi keduanya masih bersembunyi di dalam kepura-puraan. Hal ini dilakukan keduanya karena masih saling gengsi untuk mengakuinya, harga diri yang menjadi penghalang bagi keduanya, tapi pada dasarnya Janda Hamidah sudah lama ingin menikah dan mengakhiri status jandanya.Tuan KondekturTapi semua itu terhambat karena Janda Hamidah terlalu kuatir kalau nanti pasangan hidupnya hanya akan menghabiskan hartanya saja. Memang semua ini dikemas dalam kepura-puraan saja, tapi pada akhirnya keduanya tidak dapat membendung derasnya cinta di hati mereka untuk mengakuinya.Tuan KondekturKeduanya tidak bisa menipu dirinya terus menerus, bahwa sebenarnya keduanya dalam rentetan waktu yang intens saling mencintai satu sama lainnya. Semua ini terlihat dari gesture tubuh dan aura ketika mereka bertemu.Tuan KondekturTuan Kondektur dulu memang pernah di mainkan oleh Teater Lingkar pada masa awal kelahiran teater ini, yang dimainkan oleh Maston, KIrno dan Alm. Nunik. Kali ini ditampilkan lagi oleh generasi yang berbeda yang dibuat lebih kekinian dengan situasi dan kondisi yang berbeda pula.Tuan KondekturBeberapa unsur yang menjadi tolak ukur dalam sebuah pementas dalam Teater Linkar selama ini adalah keaktoran (acting). Ini menjadi modal utama disamping unsur lain yang ikut mengharmonikan diantaranya, artistik, site lokasi (property), busana, penataan lighting dan tidak kalah pentingnya adalah team work dan donatur.Tuan KondekturDrama Tuan Kondektur ini di gelar di Taman Budaya Raden Saleh Semarang, tepatnya di Gedung Pertemuan Raden Saleh di Jalan Sriwijaya no 29 Semarang oleh Teater Lingkar Semarang yang bekerja sama dengan Pemkot Semarang, Pemprov Jateng serta para sponsorship, yang digelar pada hari Sabtu tanggal 26 Oktober 2019 dalam dua sesi, dimana sesi pertama pada jam 15.30 wib dan sesi kedua pada jam 19.30 wib.Tuan KondekturKomposisi internal drama ini ingin lebih menyampaikan cerminan hidup bagi kita semua, bahwa selama ini didalam masyarakat kita suka sekali dengan hal yang namanya “bertengkar” dengan mengedepankan emosi. Hal ini menjadi sebuah gejala masyarakat kita sedang sakit kalau dihubungkan dengan masyarakat kontekstual jaman dahulu.Tuan KondekturDulu masyarakat selalu mengedepankan musyawarah untuk mufakat dalam menyelesaikan permasalahan atau persoalan. Hal-hal yang tidak perlu jarang sekali dijadikan sebuah pertengkaran dan ini semua menjadi sindiran-sindiran bagi kita dalam menjalani kehidupan di jaman milenial.Tuan KondekturTeater Lingkar Semarang berdiri pada tanggal 14 Maret 1980, yang berhome base di Jl. Gemah jaya I no 1 Semarang. Sangat eksis didunia teater Indonesia, dimana tiap bulannya selalu mengadakan pertunjukan di TBRS Semarang. Beberapa karya Teater Lingkar Semarang yang melegenda diantaranya Graffito karya Akhudiat (1980), Kali Ciliwung karya Nursahid (1984) dan Kursi karya Prie GS (1994).Tuan KondekturSet property dalam drama Tuan Kondektur sangat sederhana tapi menarik, dimana seting suasana sebuah ruang tamu dan ruang kerja yang dihubungkan dengan tangga untuk ruang dalamnya. Hal ini dilakukan untuk menghidupkan suasana yang ingin di bangun sehingga pesan kepenonton tersampaikan.Tuan KondekturBusana yang digunakan seperti busana yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari yang semuanya menggambarkan profesi yang ditampilkan dalam drama ini. Mulai dari seorang Kondektur dengan perlentenya, pembantu rumah tangga dengan kekumelannya, dan seorang Janda dengan busana yang kekinian yang biasa dipakai oleh perempuan berumur 30 an.Tuan KondekturIringan musik yang mengiringi menggunakan bunyi-bunyian dari alat musik Jawa berupa “Gender” tanpa adanya unsur lagu karena secara keseluruhan iringan musik hanya sebagai unsur pendukung dalam menciptakan suasana yang ingin diciptakan dalam drama ini.Tuan KondekturImprovisasi dalam sebuah drama pastilah diperlukan juga, ini juga terlihat dalam drama ini. Improvisasi diperlukan untuk lebih menghidupkan suasana yang dibangun dengan rule yang telah disepakati  dan tidak boleh keluar terlalu jauh.Tuan KondekturTuan Kondektur.

1Persembahan:Teater Lingkar Semarang
2Sutradara:Eddy Morphin
3Penasehat Produksi:Maston Lingkar
4Penata Lighting:Fajar
5Penata Busana:Mbak Din
6Penata Musik:Saroso
7Pemain:
  1. Adhinar Pay (Tuan Kondektur)
  2. Fredy (Pembantu)
  3. Shifa (Janda Hamidah)

Tuan Kondektur“Kunci utama dalam berteater adalah “produksi”, melalui pementasan sebuah teater akan terlihat. Hal ini terlihat dari rutinitas dengan adanya lomba-lomba teater di Kota Semarang. Teater Lingkar sangat membuka diri penuh terhadap actor-actor muda untuk bergabung, belajar dan tampil bersama dan ini wujud dari konsistensi Teater Lingkar dalam dunia teater Indonesia, khususnya Kota Semarang”, ujar Eddy Morphin selaku sutradara Drama Tuan Kondektur disela-sela acara. Salam Budaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here