myimage.id | Wayang Beber merupakan wayang yang ceritanya ditampilkan dengan menggunakan media gulungan kertas, kata beber sendiri berasal dari bahasa Jawa yang artinya di beberake, dicritake (diceritakan) atau dunia dalam gambar.

Wayang Beber, culture

Jalannya cerita Wayang Beber kali ini mengambil dari serat Panji menggunakan lakon Remeng Mangunjaya (Gulungan ke 4) oleh Ki Dalang Slamet Haryadi S.Pd sekaligus pimpinan dari Sanggar Pedalangan Pengalasan dengan alamat Wilaged, Karangmojo Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta.

Wayang Beber, culture

Sanggar Pedalangan Pengalasan berdiri pada tanggal 12 September 1999, tidak hanya fokus didunia Wayang Beber saja, tapi juga pada wayang purwo (wayang kulit) sampai sekarang. Sasaran utama sanggar ini adalah anak-anak atau generasi penerus bangsa yang sekarang ini mempunyai murid 23 anak dari SD, SMP, dan SMA, dimana para muridnya ini hampir sekarang tiap harinya selalu tampil di depan masyarakat dan tampilannya pun mengikuti perkembangan jaman sekarang, seperti mereka tampil berkolaborasi 2 sampai 3 dalang dalam satu panggung.

Wayang Beber, culture

Wayang Beber ini digelar sebagai pembuka Seminar Panji Internasional 2018 dengan speakers Wardiman Djojonegor, I Made Bandem, Sumaryono, Delegasi Camboja dan Delegasi Thailand di Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta pada tanggal 7 Juli 2018.

Wayang Beber, culture

Dalam Wayang Beber dengan lakon Remeng Mangunjaya ini diceritakan Panji Asmarabangun sedang melakukan pertapaan, supaya tidak diketahui oleh masyarakat dia menyamar sebagai Remeng Mangunjaya. Dia mengetahui bahwa istrinya (Galuh Candrakirana) akan  di culik oleh Prabu Klana Sewandana. Setelah beberapa kali Prabu Klana Sewandana gagal menyerang Kediri, dia marah besar. Segera mengerahkan pasukannya di bawah pimpinan Patih Gajah Gurita untuk mengempur Kediri dan membunuh Remeng Mangunjaya.

Wayang Beber, culture

Jika hal tersebut berhasil, maka Galuh Candrakirana juga akan berhasil diperistri. Namun malang nasib Patih Gajah Gurita yang memiliki ajian Wewe Putih itu, dia tewas di tangan Remeng Mangunjaya dan Galuh Candrakirana tetap bersatu dengan Remeng Mangunjaya selamanya.

Wayang Beber, culture

Sejarah Wayang Beber diawali dengan melihat wayang diukir pada dinding relief candi-candi yang kemudian dikembangkan menjadi wayang rontal. Ini terdapat dalam Serat Sastramiruda tertulis Sengkalan Gambaring Wayang Wolu yang berarti 861 Saka atau 939 Masehi. Wayang Beber dimulai sejak jaman Kerajaan Jenggala 1223 M, berupa gambar-gambar pada daun lontar. Gambar-gambar tersebut kemudian dipindahkan pada media kertas yang terbuat dari kulit kayu dengan warna gambar hitam dan putih. Sejak saat itu orang-orang menyebut sebagai Wayang Beber (beber berarti dibentangkan).

Wayang Beber, culture

Gendhing-gendhing yang mengiringi wayang Beber kali ini berupa gendhing Engger yang diberi vokal, sebagai dukungan cerita dalam wayang yang ditampilkan yang isinya menceritakan Panji Asmarabangun (Remeng Mangunjaya). Semua iringan dan adegan saling menyambung dan utuh menjadi satu jiwa.

Wayang Beber, culture

Wayang Beber

1PersembahanSanggar Pedalangan Pengalasan Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
2DalangSlamet Haryadi S. Pd
3PengrawitSlentem (Haryanto), Gender Barong (Sadiman), Kendang (Muklas Hidayat), Saron (Iswan), Rebab (Slamet Riyanto), Kenong (Harno), Gong (Suyadi), Sinden (Sukarmi dan Dewi Ambarwati)

Harapan dengan adanya pertunjukan ini seperti yang dituturkan Ki Dalang Slamet Haryadi, S.Pd  adalah Wayang Beber mendapat tempat di kalangan masyarakat ataupun Pemerintah, serta yang lebih penting adalah kesinambungan untuk melestarikan dan mengembangkan secara nyata khususnya generasi millennia (anak-anak jaman now) selalu ikut andil dan menangkap seni dan budaya ini jangan sampai putus. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here