myimage.id | Wayang Potehi adalah sebuah pertunjukan boneka tradisional yang menggunakan pakaian tradisional khas Negeri Tiongkok. Bentuknya lebih kecil kalau dibandingkan dengan wayang golek asal Jawa Barat (wayang golek Sunda).

Wayang Potehi, classic, cultur

Wayang Potehi bisa kita saksikan manakala di waktu acara Pasar Semawis yang diselenggarakan di daerah pecinan Semarang, tepatnya di sepanjang jalan Wotgandul, sedangkan Pasar Semawis merupakan sebuah agenda budaya yang rutin digelar setahun sekali menjelang menyambut perayaan Tahun Baru Cina (Imlek) di kota Semarang.

Wayang Potehi, classic, cultur

Asal mula Wayang Potehi ini sebenarnya diciptakan oleh 5 orang terpidana mati dijaman Tsang Tian. Kelima orang ini menghibur dirinya yang menunggu di hukum mati dengan membuat wayang dari bahan seadanya dengan alat pengiring dari barang-barang rumah tangga sebagai tetabuhannya.

Wayang Potehi, classic, cultur

Kreatifitas kelima orang ini didengar oleh Raja Tioe Ong. Mereka kemudian dipanggil masuk kedalam istana untuk mempertujukan wayang potehi ini. Namun kelimanya ini memang orang cerdik, mereka memanfaatkan keadaan ini dengan memainkan lakon tentang kebaikan dan kebijaksanaan Raja Tioe Ong yang memberikan kesan yang sangat dalam kepada Sang Raja. Setelah pertunjukan ini, mereka mendapat pengampunan dari Raja dengan dibebaskan dari hukuman mati.

Wayang Potehi, classic, cultur

Wayang potehi ini biasanya dimainkan dalam tobong yang tidak begitu besar, berupa kotak yang bagian depannya dibuat lubang sebagai panggung pertunjukannya. Dalam memainkan pertunjukan ini sang dalangnya di bantu seorang asisten dalang untuk mempertunjukan cerita yang di mainkan. Sedangkan cara memainkannya juga tidak begitu susah, dengan memasukan tangan kedalam kain dan mengerak-gerakan tangan mereka sesuai dengan karakter yang sedang diperankannya. Kali ini ceritanya memainkan lakon Poei Sie giok dan Pertahanan Militer Jendral Yang.

Wayang Potehi, classic, cultur

Dibelakang sang dalang ini disulap menjadi backstage yang berfungsi sebagai tempat para pengiring irama pada pertunjukan wayang potehi. Alat-alat yang biasanya digunakan sebagai pengiringnya berupa gembreng, kecer, suling, rebab, tambur.

Wayang Potehi, classic, cultur

Dalang wayang potehi sekarang ini sangat langka dijumpai lagi. Salah satu dalang yang masih menekuninya adalah Thio Hauw Lie yang merupakan putra kelima dari Thio Tiong Gie. Beliau adalah generasi ke 2 yang memainkan wayang potehi ini setelah ayahnya meninggal pada tahun 2014.

Wayang Potehi, classic, cultur

Walaupun wayang ini sekarang kalah pamor dengan pertunjukan masa kini, tapi pada dasarnya wayang potehi ini mempunyai penggemar khusus tersendiri, terutama masyarakat Tionghoa. Salah satu warisan budaya yang harus di kembangkan dan dilestarikan, karena ini merupakan bagian dari elemen masyarakat Indonesia yang mempunyai culture yang berbeda-beda tapi tetap saling menghargai yang dapat dijadikan daya tarik pariwisata Indonesia, agar wisatawan asing datang di Indonesia khususnya Semarang sebagai Ibu Kota Jawa Tengah. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here