myimage.id | Om Swastiastu, Namo Buddhaya. Sugeng enjang sedherek-sedherek. Wayang Wong sarat akan isi atau norma-norma yang semuanya merupakan bentuk organik berkesenian total yang mempunyai arti, bahwa semua aspek seni pertunjukan maupun seni rupa ada didalamnya. Sebuah produk Istana yang “Agung”. Semua ini terlihat dalam Wayang Wong Gandawerdaya yang merupakan sebuah pertunjukan wayang orang gaya Yogyakarta yang di dalamnya menceritakan tentang Raden Gandawerdaya dan Raden Gandakusuma yang merupakan putra dari Raden Arjuna yang terlahir dari dua ibu yang berbeda yaitu Dewi Jimambang dan Dewi Gandawati.Wayang Wong GandawerdayaCerita ini dimulai dari kedatangan Raden Gandawerdaya ke Astinapura untuk mencari ayah kandungnya. Mengetahui hal tersebut. Patih Sengkuni mengambil kesempatan untuk menipu Raden Gandawerdaya. Ia pun membawa Raden Gandawerdaya ke Kerajaan Astinapura agar bisa mendukung Kurawa melawan Pandawa.Wayang Wong GandawerdayaSementara itu di Amarta, seorang kesatria muda yang bernama Raden Gandakusuma datang dan mengaku sebagai putra Raden Arjuna. Bersamaan dengan hal tersebut Kurawa menginginkan pusaka Jamus Kalimasada untuk diserahkan kepada Prabu Duryudono.Wayang Wong GandawerdayaAkhirnya timbul konflik peperangan antara Kurawa melawan Pandawa. Raden Arjuna berjanji akan mengakui Raden Gandakusuma sebagai anakya, jika ia dapat mengalahkan Kurawa dan Raden Gandawerdaya. Berkat Ki Lurah Semar Bradanaya, kedua kesatria muda yang tengah berperang dapat di lerai.Wayang Wong GandawerdayaKemudian keduanya mengetahui bahwa mereka berdua adalah saudara (satu ayah) yang tak lain adalah putra dari Raden Arjuna. Akhirnya mereka berdua bersama-sama membantu Pandawa untuk melawan dan menyingkirkan Kurawa.Wayang Wong GandawerdayaWayang Wong  dengan lakon Gandawerdaya ini merupakan lakon yang di buat pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I, sehingga menjadi lakon carangan tertua di Kraton Yogyakarta. Naskah  asli dari Wayang Wong Gandawerdaya ini menjadi salah satu naskah yang di jarah oleh Inggris pada peristiwa Geger Spehi. Kanon hingga kini naskah asli tersebut masih tersimpan di salah satu museum di London.Wayang Wong GandawerdayaWayang Wong Gandawerdaya di pertunjukan pada acara Sekaten 2019 oleh KHP Kridhomardowo, yang diselenggarakan oleh Kraton Yogyakarta, di Kagungan Dalam Bangsal Pagelaran Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat, selama tiga malam tepatnya tanggal 4,5 dan 6 November 2019, mulai pukul 19.30 wib sampai selesai.Wayang Wong GandawerdayaKHP Kridhomardowo adalah sebuah bagian struktur keorganisasian di Kraton Yogyakarta yang berbentuk Kawedanan. Kawedanan Kridhomardowo merupakan tepas (Kantor) yang khusus mengurusi tentang kesenian di Kraton Yogyakarta.Wayang Wong GandawerdayaDiantaranya mengurusi tentang tari-tarian, busana tarian (pasedhahan/kagunan), karawitan, pedhalangan, tatah sungging wayang, batik, bludri, kemasan, gendhing (materi gamelam), kriya, hinggil (perlengkapan dan merawat gamelan). Saat ini Kawedanan Kridhomardowo Kraton Yogyakarta di pimpin oleh KPH Notonegoro.Wayang Wong GandawerdayaPada tahun ini, Sekaten 2019 mengambil tema ”Sultan Hamengku Buwono I, Menghadang Gelombang, Menantang Jaman”, sehingga dalam pagelaran wayang orang kali ini mengambil lakon dari carangan Sultan Hamengku Buwono I, disamping itu juga ada beberapa pameran yang khusus menampilkan Sultan Hamengku Buwono I, sebagai sajian khusus yang semua ini, menjadi manisfestasi kebudayaan Trah Mataram.Wayang Wong GandawerdayaPertunjukan wayang wong kali ini, juga terasa kekinian, dengan munculnya goro-goro yang dimainkan oleh para Doktor tari, yang sangat komunikatif dengan para penontonnya. Dimainkan dengan ciri khas Kraton yang spesifik para Doktor tari  menjadi “Si Tua Bocah Nakal” dalam menyajikannya guyonan yang atraktip dengan unsur pendidikan bagi masyarakat luas.Wayang Wong Gandawerdaya“Memang dalam pertunjukan kali ini ada pakem-pakemnya, tetapi banyak pemain yang memainkan improvisasi. Selama masih dalam koridor, tidak menjadi masalah, karena semuanya agar pertunjukan ini menjadi lebih menarik bagi penontonnya”, ujar KMT Suryawaseso selaku sutradara pagelaran ini disela-sela acara.Wayang Wong GandawerdayaSebuah tontonan yang luar biasa, jarang sekali pertunjukan seperti ini diadakan, dimana masyarakat umum bisa melihat keunikan dan kekhasan serta rasa dari Wayang Wong gaya Yogyakarta. Mulai dari gerak, kastum maupun gendhing-gendhing semua memiliki rasa klasik.Wayang Wong GandawerdayaBeberapa ciri khas Wayang Orang yang ditampilkan Kraton Kasultanan Yogyakarta dalam lakon Gandawerdaya, dimana pada jejeran, didalamnya menggunakan dampar (tempat duduk) yang mana ini merupakan pola baku Wayang Orang gaya Mataraman, serta adanya lagon, kondo, ontowecono (dialog) dimana ini merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam struktur atau adegan dalam Wayang Orang gaya Mataraman.Wayang Wong GandawerdayaRagam gerak yang digunakan dalam Wayang Wong Gandawerdaya mengacu pada gerak tari klasik gaya Yogyakarta yang selama ini kita kenal, yang mempunyai kekhasan tersendiri yang tidak dipunyai oleh 3 Kraton yang lainnya dan ini bukan merupakan kreasi, semua mengacu yang sudah ada (pakem).Wayang Wong GandawerdayaBusana yang digunakan mengacu pada pakemnya dari HB VIII dengan tidak ada perubahan, hanya kecil-kecil saja dan tidak berpengaruh besar terhadap busana keseluruhan, sedangkan iringan gendhingnya menggunakan wirangrang, goro-goro, sampak, dan dolanan.Wayang Wong GandawerdayaWayang Wong Gandawerdaya.

1Persembahan:KHP Kridhomardowo
2Sutradara:KMT Suryawasesa
3Asisten Sutradara:KRT. Condrowaseso
4Pamucal Beksa:
  1. Nyi KRT. Kusumaningrat
  2. Nyi M.Riyo Murtiharini
  3. Widodomandro
  4. Nyi RW. Nooryastutinindyomotoyo
  5. Suwantoro
5Penata Iringan:MP. Susilomadyo
6Penata Busana:KRT. Suryoamiseno
7Pangarso Produksi:Nyi RW. Noorhayatiraras
8Foto dan Design:RP. Purwoguritno
9Penari:

Jejer Pertapaan Tasik Madu

  1. Aryawan Dwi Sasongko (Resi Harjunoyono)
  2. RW Rogomurti (Gandakusumo)
  3. Nyi RJ Moortrisarinartaki (Gandawati)
  4. MJ Prihanintorogomataya (Janggan #1)
  5. Ilham Cahya (Janggan #2)
  6. Mohan Kalandara (Lurah Cantrik)

Cantrik

  1. Syafiq
  2. Giran Sandi Jayabaya
  3. Parikesit GA
  4. Awang KJ
  5. Radhitya TS
  6. Risky Alfaris

Jejer Goro-goro

  1. KMT Dwijosunardi (Semar)
  2. KRT Condrowaseso (Gareng)
  3. MR Dwijosupadmo (Petruk)
  4. Maryono (Bagong)

Jejer Begalan-Alas

  1. RJ Pulungronggomatoyo (Dityo Klantang Mimis/Cakil)
  2. RJ Murpratomokunudamatoyo (Dityo Kolohono)
  3. MJ Gumelarsigramatoyo (Ditya Kolosigro)
  4. Aji Salma (Dityo Kolosalmo)
  5. Arif Bagus (Dityo Koloaripo)
  6. Arif Nur Sawiji (Dityo Kolowijoyo)
  7. Benny Harminto (Dityo Kolobeniyo)
  8. Bagas (Dityo kolobago)

Wayang Wong Gandawerdaya“Sebuah apresiasi khasanah budaya Kraton Yogyakarta yang sangat inovatif, menarik diperlihatkan disini sebagai bagian pelestarian budaya secara nyata”, celetuk M. Hari, penonton dari Surakarta yang pada malam hari ini khusus datang untuk menonton acara ini. (Soebijanto/reog biyan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here