myimage.id | Wingko babat adalah penganan berbentuk bulat pipih berwarna putih dengan sisi atas bawah berwarna coklat karena proses pemanggangan. Kalau Anda berkunjung ke Semarang, terasa kurang lengkap bila pulang tanpa membawa oleh-oleh wingko. Wingko Babat, agaknya telah menjadi ikon oleh-oleh Semarang. Manis dengan berbagai variasi rasa dan terasa kenyal.

wingko babat

“Sepotong kue, dalam kemasan berlambang kereta api, yang terus diproduksi membawa sebuah Kenangan, Cita Rasa, juga keuletan sebuah usaha”.

wingko babat

Muncul pertama di kota Babat, Jawa Timur, wingko babat akhirnya justru besar di kota Semarang. Kehadiran wingko babat ini tak lepas dari keluarga The Ek Tjong alias D. Mulyono. Ia beserta kedua anaknya mengungsi dari kota Babat, yang pada 1944 itu. dilanda peperangan. Pilihan mengungsi ke kota besar dirasa cukup aman.

wingko babat

Di Semarang, sang suami mendapat pekerjaan di perusahaan kereta api NIS (Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatscappij). Sementara untuk mencari uang tambahan, istrinya yang bernama Loe Lan Hwa berjualan wingko. Keterampilan membuat kue ini didapat dari ayahnya, Loe Soe Siang. Keturunan Loe Soe Siang sendiri di kota Babat, juga terkenal sebagai pembuat wingko hingga kini.

wingko babat

Wingko Babat, Pecahan Genteng

Kue buatan Loe Lan Hwa dijual di stasiun Kereta Api Tawang Semarang, tempat suaminya bekerja. Pada mulanya tak banyak yang tertarik membeli kue ini. “Sehari hanya membuat 20 buah, dan laku 5 buah,” tutur Ibu Sinata, generasi ketiga, penerus usaha pembuatan wingko babat ini. Seiring berjalannya waktu, lambat laun banyak penggemarnya. Tapi. waktu itu orang bertanya, apa nama kue ini? Di kota asalnya, ia disebut wingko (bahasa Jawa, wingko berarti pecahan genteng, kereweng).

wingko babat

Untuk memenuhi keingintahuan pembeli dan sekaligus menunjukkan asal resep itu, Loe Lan Hwa menyebut kue itu, Wingko Babat. Stasiun Kereta Api Tawang Semarang adalah lokasi pertama kue ini dijajakan dan dari sinilah wingko babat ini menyebar ke berbagai tempat. Mulanya hanya ke arah Jakarta dan Surabaya. Hal yang mengilhami D. Mulyono ketika memutuskan memuat gambar untuk kemasan wingko babat adalah gambar kereta api pada sampul muka buku isian saran di gerbong restorasi. Gambar lokomotif yang dipakai pada mulanya memakai teks Cap Spoor, namun mengikuti perkembangan bahasa kemudian diganti Cap Kereta Api.

wingko babat

Makin populernya kue wingko babat buatan Loe Lan Hwa, membuat pabriknya meningkatkan produksi. Hal ini menarik orang lain untuk mencoba membuat wingko babat serupa, yang kemudian juga menggunakan gambar kereta api sebagai merek.

Loe Lan Hwa kemudian mencantumkan nama suaminya D. Mulyono dengan tambahan nama ayahnya d/h Loe Soe Siang pada kemasan bungkus wingko babat. Hal ini dimaksudkan untuk membedakan dengan wingko babat lain sekaligus menegaskan bahwa wingko babat D. Mulyono merupakan kelanjutan dari wingko babat yang dibuat Loe Soe Siang di Babat. Pada kemasan wingko Cap Kereta Api, teks yang dipakai adalah ejaan Belanda, Wingko Babad (dengan huruf akhir D), hal ini juga untuk membedakan dengan wingko babat yang lain.

“Untuk membuat kue wingko babat ini cukup mudah” kata Ibu Sinata. Pertama, campurkan parutan kelapa muda dengan gula pasir. Kemudian masukkan tepung ketan ke dalam adonan dengan sedikit air. Aduk terus hingga merata dan kental. Untuk wingko babat asli rasa kelapa, langsung saja dicetak bundar atau pipih dan dipanggang dengan api sedang. Bila permukaan sudah berwarna coklat matang segera dibalik untuk mematangkan sisi satunya. Bila menginginkan rasa lain, bahan tambahan dimasukkan ke dalam adonan dan diaduk hingga bercampur.

“Wingko babat cap Kereta Api, memiliki 5 variasi rasa yaitu, kelapa, nangka, pisang, coklat, dan durian,” jelas ibu Heni, generasi ke 4 Wingko Kereta Api. Kualitas bahan, kebersihan peralatan, menjadikan wingko bisa bertahan 3 hingga 4 hari tanpa pengawet.

wingko babat

PROSES PEMBUATAN

Mudah, bisa dilakukan di rumah.
Parutan kelapa muda dicampur dengan gulapasir, diaduk hingga merata, kemudian ditambah tepung ketan dan air secukupnya. Pada jaman dahulu ketika mesin pencampur otomatis belum ada, kegiatan ini dilakukan dengan: meremas-remas adonan hingga agak berminyak (g1).
Adonan dicetak bulat pipih dan diletakkan berjajar di atas nampan alumunium beralaskan daun pisang (2). Siap untuk proses pemanggangan (3).
Pemanggangan dengan api kecil, berkisar 80 derajat Celsius (4). Setelah merata dan berwarna coklat keemasan, wingko dibalik untuk pemanggangan sisi sebaliknya (5)
Setelah matang, keluarkan dan siap untuk disantap. Wingko siap untuk dikemas (6 dan 7).
Wingko hangat langsung dikemas, baik dengan kemasan kertas secara manual maupun plastik dengan mesin pengemas otomatis (8 dan 9)

Cap Kereta Api

Banyaknya produsen lain yang memproduksi dan meniru kemasan yang dipakai Wingko babat Cap Kereta Api, memang seringkali membuat konsumen bertanya-tanya, manakah wingko yang asli? Secara umum tampilan wingkonya sendiri hampir sama, yang berbeda jelas kualitas dan harganya.

Hal yang menarik dari wingko babat Semarang adalah logo-logo yang ditampilkan pada kemasan kertasnya. Mengekor keberhasilan Wingko Cap Kereta Api, produsen lain juga menggunakan gambar kereta api. Ada yang meniru persis, namun lebih banyak yang menyerupai saja. Juga nama merk yang dipakai, seperti Cap Kereta Api Mulyo, Asli Cap Kereta Api Eksekutif, Cap Kereta Bisnis, Cap Kereta Api Diesel dan Jet, Kereta Api Gaya Baru, Cap Kereta Api Mutiara.

berbagai merk yang meniru cap kereta api

Meski tak ada hubungan langsung antara wingko babat yang empuk dan enak dengan fisik kereta api yang terlihat legam pada masa itu, nampaknya D. Mulyono memilih kereta api sebagai representasi modernisasi. Kereta api sebagai alat transportasi yang paling cepat dan hebat diasosiasikan ke dalam wingko sebagai kue yang paling enak.

Omzet wingko babat di kota semarang tergolong tinggi, perkiraan kasar dari beberapa produsen, pada hari biasa setidaknya setiap hari 20 ribu butir wingko tersebar ke berbagai kota sebagai buah tangan. Pada akhir minggu dan saat liburan omzetnya berlipat empat kali lebih banyak.

Dari sekian banyak merk di atas, sebagian besar sudah tidak diproduksi lagi. Kini hanya ada belasan produsen saja. Sifat wingko babat yang tidak tahan lama dan kualitas yang berbeda-beda, membuat konsumen lebih memilih wingko yang terjaga kualitasnya. Idiom “rasa tak pernah bohong’ memang berlaku di dunia perwingkoan.

Kalo dulu dalam setiap perjalanan kereta api yang berhenti di Stasiun Tawang, terdengar “Wingkonya wingko…yaa.. yang wingko, yang wingko…”. Saat ini, suara orang menjajakan wingko babat sudah tak terdengar lagi, peraturan baru memang tidak membolehkan kecuali penumpang dan petugas berada di area peron. Suasana itu tinggal nostalgia. Tapi kue wingko babat tetap bisa didapat di toko-toko oleh-oleh. (Rahman Hakim)

2 COMMENTS

    • Jl. Cendrawasih No.14, Purwodinatan, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah 50137, coba tanya langsung kesini mbak, dulu masalahnya saya dapat karena ramai-ramai dengan para fotografer, kebetulan salah satu teman saya kenal sama yang punya. semoga masih bisa. suwun

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here